Lompat ke konten
Home » Guru Menulis » Air Mata Wisuda

Air Mata Wisuda

Dulu … aku sering bertanya kepada diriku sendiri.

Siapa yang harus aku salahkan ketika orang banyak bertanya kuliah kepadaku. Bukan ku tak ingin kuliah, tapi nasib yang belum berfihak kepadaku.Aku tidak perlu kuliah karena aku sudah mendapat pekerjaan, tanpa kuliah pun aku sudah bias menghasilkan uang.Aku tidak perlu menjadi seorang sarjana.

Tapi kuliah bukan soal mampu mendapatkan uang, Selesai kuliah bukan soal mencari pekerjaan. Kuliah bagiku seperti seekor binatang yang mengejar mangsanya. Seperti seseorang yang kehilangan, Harus di dapatkan. Aku mengetuk pintu langit agar Tuhan memberikan kesempatan kepadaku. Semakin aku berharap ingin kuliah, semakin terasa sesak nafasku. Aku tidak berdaya. Sebenarnya ingin ku kubur keinginanku kuliah. Semakin kulupakan keinginan kuliah semakin menggebu ingin kudapatkan. Akhirnya aku hanya sedih bila mengingat itu. Hingga suatu saat aku mampu melupakan keinginan kuliah.

Aku lihat beberapa kali surat undangan wisuda untuk pendamping wisudaku. Aku masih ingat ucapanku kepada almarhum isteriku jika aku wisuda akan sendiri saja. Memang menyakitkan jika ingat kata-kata itu. Seolah-olahdo’abagiku.Padahal aku hanya bercanda Tuhan.

Aku tatap keduaanakku yang masih dibawah umur karena tidak di perkenankan masuk ruang wisuda sarjana. Aku pesan jangan main jauh-jauh dari gedung tempatku wisuda nanti. Aku ucapkan berulang-ulang kepada mereka berdua. Aku lihat mereka menganggukkan kepala tanda setuju atas intruksiku.

Saatnya aku siap-siap berbaris seperti pasukan yang siap tempur ke medan perang dengan jubah hitam kebesaran. Aku lihat dari kejauhan mereka berdua sambil menatapku. Seolah mereka bilang: “aku ingin ikut ayah. Aku ingin menyaksikan wisuda ayah.”Tapi itu tidak mungkin anakku.

Aku tidaklagi melihat mereka setelah aku masuk ke ruang wisuda yang penuh dengan tamu undangan dan pendamping wisuda. Tapi mereka bukan undanganku. Mereka bukan pendampingku. Anakku diluar. Kulihat teman di depanku melambaikan tangannya kepada keluarga mereka. Mereka gembira dan senang dihadiri keluarganya, dihadiri suaminya, dihadiri isterinya, dihadiri saudaranya. Lalu? Siapa yang menghadiriku?

Air  mata yang kutahan agar tidak tumpah, saat itu tak bias kutahan berderai dari kedua mataku. Air mata haru, air mata senang, air mata bahagia, air mata kesedihan dan tentunya air mata wisuda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *