Cerbung Seri 1.1 | Oleh Ade Sukmana, S.Pd
“Pergi sana! Dasar anak tidak tahu diri!” bentak Ayah dengan keras. Air mata mengalir deras membasahi pipi Badrun yang memerah. Meski begitu, ia bertekad untuk bangkit dari luka ini. Luka di hatinya akan menjadi pelajaran berharga untuk masa depan.
“Nak, jangan tinggalkan Ibu!” seru Ibu, suaranya bergetar pilu. Air matanya terus mengalir membasahi pipi pucatnya. Badrun menatap Ibu dengan tatapan kosong, hatinya terasa dingin. Ayah hanya bisa menggelengkan kepala, seakan turut merasakan kesedihan yang mendalam.
Dengan langkah berat, Badrun meninggalkan rumah penuh kenangan. Ibu hanya bisa menatap kepergian anaknya dengan air mata yang tak kunjung berhenti. “Ayah … anak kita,” ratap Ibu. Ayah menjawab dengan suara berat, “Biarkan dia pergi, Bu.” Ada raut kesedihan yang tersembunyi di balik wajahnya yang tegar. Sebenarnya, apa yang telah dilakukan Badrun hingga membuatnya diusir dari rumah?
“Suatu saat … dia akan kembali,” lirih Ayah sambil mengelus punggung Ibu dengan lembut. Namun, sebuah tanda tanya besar masih menggantung di hati mereka.
Beban berat menyelimuti setiap langkah Badrun. Kata-kata ayahnya terus menghantuinya, membuatnya merasa bersalah. Di persimpangan jalan, ia ragu. Tak tahu harus melangkah kemana. Saat tengah melamun, sebuah kendaraan menabraknya dengan keras. Badrun terhempas ke aspal, tubuhnya penuh luka. Pengemudi yang bersalah itu melarikan diri dengan cepat.
Nomor polisi kendaraan itu terukir jelas di benaknya sebelum segalanya menjadi gelap.
*
Di tempat lain, seorang kakek sedang mengobrol dengan cucunya.
“Ci, Kakek mau pergi sebentar, ya,” kata Kakek sambil tersenyum hangat.
“Mau ke mana, Kek? Kakek baru pulang, kan?” Tanya Uci dengan nada manja.
“Nanti kamu tahu sendiri,” jawab Kakek sambil mengedipkan sebelah mata.
“Aku mau ikut, Kek!” rengek Uci sambil bibirnya manyun.
“Kamu tunggu di sini saja, ya,” ucap Kakek lembut sambil mengusap kepala Uci.
“Ih, Kakek!” protes Uci dengan bibir manyun.
“Kakek mau tolongin orang lain sebentar,” jelas Kakek.
“Siapa, Kek? Dia sakit? Sakit apa?” tanya cucu bertubi-tubi, penasaran.
Kakek hanya menggeleng dan tersenyum misterius. “Sudah ya. Kamu jangan ke mana-mana. Tunggu Kakek pulang,” perintah Kakek lalu beranjak pergi.
*
Tok tok tok.
“Assalamualaikum,” sapa seorang warga, terengah-engah. Ia baru saja sampai di rumah pak Lurah.
Pintu terbuka, dan Bu Lurah menatap Maman dengan heran. “Ada apa, Man? Sepertinya kamu habis berlari.”
Maman, ajudan setia pak Lurah, terlihat gugup. “I-ini, Bu … e-e-e …”
“Tenang dulu, Man. Ceritakan di dalam saja,” ajak Bu Lurah. Maman pun masuk ke dalam rumah.
Gluk! Gluk! Maman meneguk habis air dalam gelasnya.
“Bu, tadi saya dengar kabar buruk. Den Badrun kecelakaan, ditabrak lari.”
Bu Lurah langsung tegang. “Di mana dia sekarang? Keadaannya bagaimana?”
“Badrun … anakku … ya Allah.. ,” ratap Bu Lurah, air matanya membasahi punggung tangan. Di balik kesedihannya, ada sekelebat penolakan yang sulit dimengerti.
“Kenapa kamu, nak? Kenapa kamu pergi?” isak Bu Lurah pilu.
“Bu, tenang dulu. Kita ke TKP sekarang,” ucap Maman, berusaha menenangkan Bu Lurah yang terpukul. Meski berusaha tegar, ia juga sangat khawatir dengan keadaan Badrun.
*
Badrun merintih kesakitan, “aduh, sakit sekali!” Sambil memegangi kepala. Ingatannya kabur, ia tak ingat apa-apa selain samar-samar nomor polisi sebuah motor.
“Sudah sadar?” Tanya perempuan itu, menghampiri Badrun yang tengah mengamati ruangan.
“Eh, kamu siapa?”, tanya Badrun bingung, sambil memegangi kepalanya yang masih terasa sakit.
“Ditanya malah balik nanya,” gerutunya kesal. “Kakak kecelakaan tadi, ditabrak motor. Kakek yang bawa kesini.”
Alih-alih marah, Badrun justru merasa geli melihat wajah cemberut perempuan itu. “Kamu … kenapa cemberut dari tadi?” Tanyanya dengan nada menggoda. Entah kenapa, rasa sakit di kepalanya mendadak hilang seketika.
“Harusnya Kakak bilang terima kasih, bukannya malah ngomel!” protesnya, membanting nampan makanannya pelan. “Dasar cowok gak peka!” gumamnya kesal. Dalam hati, ia berpikir, “Ganteng sih … tapi kok kayak tembok? Eh! Kenapa aku jadi mikirin dia!?” Perempuan itu lalu bergegas ke dapur.
“Kok ditinggal!” teriak Badrun. Ia ingin mengejar, tapi rasa sakitnya tak mengizinkan.
Saat Uci pergi, Badrun mulai merasakan ketertarikan padanya.
Seminggu sudah Uci menanti. Kini, dengan sebungkus lalap jengkol dan ikan asin, ia melenggang ke ladang. “Kak!” sapa Uci, suaranya ceria memecah keheningan. Senyuman manis mengembang di bibirnya saat melihat Badrun.
Tanpa menoleh lama, Badrun melanjutkan pekerjaannya. Uci yang sudah berdiri di sampingnya, segera menghentikan aktivitas Badrun. “Berhenti dulu Kak..” pintanya lembut. “Makan dulu.. ,” sambungnya.
Dengan tubuh basah kuyup karena keringat, Badrun meletakkan cangkulnya. Ia mengajak Uci, “Ayo, kita cari tempat teduh.” Sambil berjalan, ia bertanya, “Kakek ke mana ya?” matanya menyapu ladang yang baru saja digarap.
Dengan bibir yang mengerucut, Uci merengek, “Ih, Kakak, bukannya nanya Uci dulu, malah nanya Kakek.” Menggeloyor duduk lebih dulu di bawah pohon, disusul Badrun.
“Kamu tuh, dikit-dikit marah. Senyum dong, biar kelihatan lebih cantik,” goda Badrun dengan wajah jahil.
“Habisnya, kakak tuh gak peka banget sih” ucap Uci sambil membanting pelan rantangnya, lalu memalingkan muka.
Badrun tersenyum lembut, “Iyaa maaf ya.”
Uci manyun, “Gitu doang?”
“Iya, iya… Uci kan cantik, cucu kesayangan Kakek. Manis banget, sampai-sampai gula aja kalah. Lihat tuh, kakimu sampai dikerubutin semut” kata Badrun sambil tertawa kecil, menunjuk kaki Uci.
“Aw!” Uci berteriak terkejut, tubuhnya oleng ke depan. Refleks, Badrun langsung menangkapnya. Pandangan mereka bertemu, sepasang mata cokelat indah milik Uci menatap lekat ke dalam mata Badrun. Jantung Uci berdebar kencang, ada perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Lepasin! Kita bukan muhrim!” seru Uci, jantungnya berdebar kencang. Badrun malah cengar-cengir. “Kenapa sih kamu?” tanya Uci kesal.
“Tadi kamu bilang apa? Muhrim?” tanya Badrun sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.
“Iya, kita bukan muhrim jadi nggak boleh deket-deket!” jawab Uci tegas.
“Kalau peluk, boleh nggak?” tanya Badrun sambil mencoba merangkul Uci.
“Nggak boleh! Nggak boleh! Nanti dimarahin Kakek!” Uci menghindar.
“Kalau gitu, kita nikah aja biar boleh peluk-pelukan,” usul Badrun santai.
“Hah?…Nikah? Kamu gila?!” Uci melotot.
Tiba-tiba, suara Kakek terdengar dari kejauhan, “Badrun! Uci!”
Keduanya langsung terdiam, saling menatap dengan wajah memerah.
Setahun sudah Badrun menimba ilmu di bawah bimbingan kakeknya, Uci. Ikatan batin mereka begitu kuat, seakan tak terpisahkan.
Suatu malam, di bawah cahaya lampu remang, mereka berkumpul di ruang tengah. Sembari menikmati goreng singkong buatan Uci yang hangat, Badrun mendengarkan dengan saksama nasihat kakeknya. Uci, duduk di samping kakeknya, sesekali melirik Badrun dengan tatapan penuh harap.
“Drun,” ujar kakek memulai, “Sebelum kau pergi, ingatlah selalu untuk menjaga hati. Jangan biarkan nafsu menguasai diri. Lihatlah segala sesuatu dengan hati yang jernih.” Badrun mengangguk, matanya tak lepas dari wajah bijaksana kakeknya.
“Tapi, Kek,” sahut Badrun, suaranya sedikit meninggi, “Siapa sebenarnya yang ingin menyakiti saya? Apa tujuannya? Saya yakin orang itu ada di sekitar saya.”
Kakek tersenyum tipis, “Nanti kau akan tahu sendiri, Nak. Tidak semua yang terlihat itu kebenaran. Dunia ini penuh misteri, termasuk masalahmu.”
“Jangan biarkan kebencian menyelimuti hatimu,” pesan kakek, suaranya lembut namun tegas, “Terutama pada keluargamu. Mereka mungkin sedang tersesat. Jadilah cahaya yang menuntun mereka. Soal hasil akhirnya, serahkan pada Yang Maha Kuasa.”
“cepetan dimakan Drun, nanti dingin,” goda kakek sambil tertawa renyah. “Lihat tuh, Uci udah capek-capek bikin goreng singkong buat kamu.”
“Ih Kek, buat Kakek juga dong,” pinta Uci dengan pipi memerah. Kakek terkekeh, “Uci kok masih malu-malu sih?”
Badrun tampak murung. Pikirannya melayang jauh, seakan memendam beban berat. Uci yang melihatnya tak enak hati. “Kak, ada apa?” tanyanya lembut. Badrun menggeleng pelan, “Tidak apa-apa Uci…”
*